Senin, 01 Januari 2018

Melepaskan Beban di Perjalanan

Standard
Mount Merbabu - Savanah 1
Apa kau masih ingat, dengan kisah Ikal dan Ara yang sempat aku ceritakan dahulu? Dua sahabat baik yang saling memendam rasa itu?
Ah, jika dikatakan demikian, sepertinya itu agak berlebihan. Maksudku... Baiklah, akan aku ceritakan kepadamu.
Kemarin Ikal kembali menghubungi ku, setelah lama sekali tenggelam dalam kesibukan dunianya. Suaranya terdengar lemah, namun aku masih bisa memahaminya dengan jelas meskipun bersaing dengan bising pergantian tahun baru. Dia bilang, dia baru saja mengatakan perasaannya kepada Ara. Ya, akhirnya. Setelah hampir selamanya mereka saling mendoakan dalam hati, mencintai dalam diam (setahu ku), akhirnya Ikal menyampaikan nya juga. Ikal, pemuda yang pendiam itu, dengan seluruh keberanian yang ia miliki, yang aku tahu ia coba kumpulan selama 5 tahun terakhir, berhasil mengutarakan isi hati terdalam miliknya.
Sebenarnya hampir setahun yang lalu, Ia juga sudah berniat untuk melakukan itu, ia meminta izin agar diberikan waktu khusus untuk bertemu dan berbincang dengan Ara, namun sepertinya semesta belum berpihak kepadanya. Hingga di ujung tahun lalu...
Malam itu Ikal datang ke rumah Ara. Dadanya dipenuhi perasaan ragu dan yakin di saat yang sama, gelisah dan bahagia di waktu yang sama, begitu katanya kepadaku. "Dia membukakan pintu, mata kami beradu. Aku kemudian disuruh nya duduk di ruang tamu. Saat itu perasaan ku masih sama; Kacau. Namun seperti katamu, act like a cool. Berdoa memohon kemudahan dalam segala sesuatu." Ujarnya dari balik layar handphone ku.
"Tiga menit aku menunggunya. Ia keluar menyibak tirai dengan dua cangkir berisi teh dan kopi instan. Kemudian duduk 50 senti di sebelah kananku. Kau pernah melihatnya, aku pernah menunjukkan fotonya kepadamu. Dan aku tahu, dia mungkin bukan perempuan paling cantik yang pernah kau temui, namun kita sepakat, bahwa ia adalah perempuan yang anggun, dari matanya yang teduh itu kita bisa melihat kelembutan hatinya." Saat Ikal mengatakan itu, aku tahu bahwa ia memang mencintai Ara. Dan aku setuju, Ara adalah perempuan yang anggun, yang akan menyejukkan hatimu saat kau menatap ke dalam bola matanya. Dan bukankah perempuan seperti itu yang kita cari?
"Kami berbincang ringan selama hampir 1 jam. Meskipun aku sudah biasa melakukannya, berbincang dengan Ara, tapi sungguh... Tuhan... Sulit sekali untuk memulai topik khusus itu."
Ikal, pemuda yang akan malu-malu membuka pembicaraan dengan teman sekantor perempuan, meski itu urusan pekerjaan. Aku membayangkan ia duduk di depan wanita yang ia jatuh cinta kepadanya, berbicara tentang rahasia terdalam hatinya... Entah seperti apa wajahnya.
"Aku tidak tahu bagaimana mulanya, tiba-tiba saja aku bertanya kepada Ara, 'Apakah kamu ingin menikah'? Dan dia langsung menjawab, 'Untuk saat ini belum, aku masih santai. Enjoy aja lah, Kal, daripada pusing mikirnya!' Begitu lugas kalimatnya. Aku sampai bingung, sebab beberapa bulan belakangan ini dia selalu saja membahas soal pernikahan, hampir semua status di media sosial nya ia tulis tentang pernikahan. Tapi malam ini... Dia... Berbeda...," Kalimat Ikal terputus. Aku diam, mendengarkan embusan napasnya. Napas yang keluar dari dalam hati yang berkabut.
"Aku tanya dia langsung pada titik terjelasnya. 'Apakah tidak pernah terpikirkan olehmu untuk menikah denganku?' Sungguh kalimat ku bergetar saat itu. Dan dengan wajah yang--seolah-olah terkejut, ia menjawab 'Apa? Enggak lah'. Dia hanya sekilas menatapku. Aku sudah tak bisa berhenti lagi, aku lanjutkan dengan pertanyaan lain, 'Lalu, Kode-kode itu? Status di Facebook yang selalu kamu tulis itu? Untuk siapa? Bukan aku?' Dan dia menjawab, 'Bukan. Kode-kode itu... Ya, untuk... Laki-laki. Siapapun mereka yang membacanya. Aku tidak pernah mengkhususkan kode itu untuk seseorang'. Untuk yang ketiga kalinya, hatiku benar-benar dihancurkan oleh perempuan yang aku cinta." Di akhir kalimatnya, aku sepertinya mendengar Ikal sedikit terisak.
Aku mengerti, bagaimana hancur dan leburnya hati Ikal. Ia selalu berada di sebelah Ara. Saat Ara bercerita tentang laki-laki yang ia cintai dan itu bukan Ikal, Ikal tetap membersamai langkah kaki Ara. Tidak pernah meninggalkannya. Dan bukan hanya sekali, namun sudah 2 laki-laki yang pernah Ara ceritakan kepada Ikal. 2 laki-laki yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang keberadaan Ikal. Dan Ikal, dari belakang, membantu sebisanya agar perasaan Ara dapat sampai kepada dua laki-laki itu.
Kau tahu, di dunia ini memang ada laki-laki "bodoh" seperti Ikal. Yang tulus mencintai seperti hujan. Meski tahu rasanya jatuh berkali-kali, namun ia akan bersedia untuk kembali.
Setelah memastikan bahwa Ara memang tidak ingin menikah dengannya, Ikal pamit pulang. Dengan membawa seluruh beban penderitaan di atas panggungnya.
Aku tidak tahu, kisah cinta macam apa ini. Ikal yang begitu tulus mencintai Ara, yang meski berkali-kali ditikam rasa cemburu, ditusuk dengan penghianatan, menelan pil pahit penderitaan, harus menyeret langkahnya melewati neraka realitas. Bahwa Ara, tidak pernah mencintainya.
"Sabar, Kal. Tidak semua pertemuan itu menyatukan." Ujarku setelah lama sekali Ikal terdiam.
"Jika bukan karena bersabar, mungkin aku tidak akan terluka seperti ini..." Jawabnya dengan suara tertahan.
Aku lupa, tentu Ikal lebih mengerti soal kesabaran dibandingkan diriku ini. Ah, seandainya aku yang ada di posisi Ikal, mencintai perempuan yang ternyata mencintai laki-laki lain, mungkin aku akan segera meninggalkannya. Tapi Ikal, entah terbuat dari apa hatinya itu.
"Hei, apa kau ingat, apa yang dikatakan oleh penulis favorit mu itu? Bahwa hakikat dari cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati cinta tersebut, maka semakin mudah untuk melepaskan. Aku tahu, ini mungkin terdengar teoritis, sebab aku tidak sedang berada di posisimu saat ini. Namun Kal, you need to keep moving forward! Perjalanan mu masih panjang. Jadikan ini sebagai satu chapter dengan open ending, dengan banyak kemungkinan untuk eksplorasi cerita yang baru. Lepaskan lah beban mu, lanjutkan perjalanan mu." Aku sendiri tidak begitu yakin dengan nasihat yang aku berikan kepadanya. Dengan keterbatasan pengetahuan ku ini, aku berharap Ikal bisa memahaminya lebih baik.
Pembicaraan kami selanjutnya berjalan dengan lebih ringan. Ikal bahkan sempat tertawa. Aku pikir ia menertawakan kebodohannya sendiri. Entah lah.
Aku sudah menuturkan nya, dan sekarang kau tahu, ada kisah cinta seperti Ikal dan Ara, yang dahulu sekali, aku pikir mereka saling mencintai dalam diam, saling mendoakan dalam senyap, namun kenyataannya tidak demikian. Terkadang, cinta memang harus diutarakan segera. Tentu, maksudku jika kau sudah benar-benar ingin membina hubungan yang serius. Agar tidak bertepuk sebelah tangan seperti Ikal.
Ah, Ikal, pemuda kurus dengan rambut keriting itu... Semoga ia baik-baik saja.

1 Januari 2018, 22.02 - Saat hujan mengetuk jendela kamar.

Jumat, 11 September 2015

Lamaran Ditolak, Al-Qur'an Bertindak!

Standard
Daud Dzal Aidi, begitulah nama lengkap pemuda tersebut. Daud adalah seorang pemuda yang polos, bisa dikatakan belum banyak terinfeksi pergaulan bebas anak muda zaman sekarang. Daud pun tidak terbiasa bergaul dengan lawan jenis terlalu jauh, hanya sekadar muamalah biasa.

Picture Credit: noorkabeer
Namun ternyata Daud memendam perasaan terhadap seorang wanita yang pernah ditemuinya sekilas dalam acara seminar remaja Islam di Jakarta, Fatimah namanya, kebetulan Daud menjadi panitianya dan Fatimah yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Daud terkesan dengan suara indah dan lengkingan ayat-ayat yang dibacakan oleh Fatimah seakan sudah menguasai betul nagham dalam ilmu tilawah, mulai dari bayati, shoba, hijaz dan sebagainya.

Singkat cerita tiga, bulan kemudian, Daud rupanya sudah ada niat ingin melamar Fatimah, sinyal cinta itu timbul begitu saja, percakapan seperlunya pun hanya melalui pesan singkat sms. “Fatimah, saya mau silaturahim ke rumah orang tua kamu, boleh saya minta alamat lengkapnya, maaf jika kurang berkenan,” setelah berpikir panjang dengan kata-katanya akhirnya sms itu terkirim juga. “Iya kak, silakan datang saja, rumah orang tua saya yang bercat putih percis di dekat gerai batik, atau tanya saja di mana rumah Bapak Ahmad Mubarak, insya Allah semua tahu.” Balas Fatimah dengan perasaan penuh harap dan cemas.

Setelah mencari sana-sini bersama kawan akrabnya, Amir, Daud pun akhirnya sampai juga di kediaman orang tua Fatimah di bilangan Jakarta. Dengan sedikit perasaan tegang karena pengalaman pertama menghadap orang tua calon belahan jiwa yang ingin dilamar, sebagai sahabat Amir pun langsung menyejukkan suasana agar Daud tetap tenang dan santai. Lalu, masuklah mereka setelah diizinkan oleh tuan rumahnya, kemudian bersalaman kepada bapak dan ibunya Fatimah, obrolan pun dimulai dan inilah yang terkenang. “Fatimah sudah banyak cerita tentang kamu, ayah pun paham kondisi kejiwaannya ketika dia menyukai sesuatu yang diinginkan, dan ngambeknya dia ketika keinginannya tidak tercapai, tapi dia lebih dewasa dari kakaknya, Aisyah.” Ujar ayah Fatimah dengan penuh wibawa menjelaskan tentang tabi’at dan sedikit kepribadian anak perempuannya itu. “Iya pak, maksud kedatangan saya pun ke sini untuk silaturahim dan juga ada niat ingin mengkhitbah Fatimah putri bapak, itu pun jika belum ada yang taqdim (mengajukan lamaran), mohon maaf bila kurang berkenan dan terkesan kurang sopan, jika diterima saya akan langsung bicara ke orang tua saya di kampung untuk mengadakan proses khitbah secara resmi,”

Daud pun menjelaskan maksud kedatangannya hendak melamar Fatimah. Meski agak sedikit gugup, namun Daud akhirnya merasa plong. “Maaf ya Daud, ibu bukannya tidak percaya sama kamu, ibu cuma khawatir bagaimana nanti kehidupan rumah tangga anak ibu jika kamu sendiri belum memiliki pekerjaan tetap. Sebenarnya ibu pun sudah punya calon untuk Fatimah, putranya kawan ibu yang kebetulan masih satu kantor sama bapak, dia sudah siap segalanya.” Sang ibu langsung memotong pembicaraan karena sudah tahu di mana keluarga Daud tinggal, yaitu di kampung pedesaan.

Daud paham dan sadar bahwa dirinya bukanlah anak orang berada, sebenarnya. Daud pun tidak mengetahui sebelumnya kalau ternyata Fatimah anak seorang pejabat yang disegani. “Iya bu, saya paham kondisi saya sekarang, tapi saya tetap berusaha memiliki pekerjaan yang halal dan baik, tentunya saya pun merasa nyaman dengan pekerjaan itu, tidak gelisah. Saya berterima kasih kepada ibu dan bapak karena sudah menerima saya untuk bersilaturahim, saya mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu ibu dan bapak.”

Daud pun pamit kepada kedua orang tua Fatimah, sebelum meninggalkan rumah, ayahnya Fatimah menghampiri Daud di pintu gerbang rumahnya, beliau berkata kepada Daud, “Nak, ayah sangat bangga kepadamu atas keberanian kamu hendak melamar Fatimah, ayah sebenarnya setuju saja jika kamu nantinya menjadi imam buat Fatimah, rasanya baru kemarin ayah mengasuh dan mendidiknya, ternyata Fatimah sekarang sudah dewasa. Maaf ya nak, ayah tidak tahu kalau ternyata ibu sudah mempunyai calon suami buat Fatimah. Kamu harus menjadi lelaki yang kuat, tetap berikhtiar, dan tentunya harus menyertakan Allah dalam setiap keputusanmu, ayah doakan kamu mendapatkan calon istri yang terbaik.” Nasihat ayah Fatimah yang cukup bijak. “Terima kasih pak, semoga putri bapak juga mendapatkan calon suami yang bisa membimbing Fatimah dalam mahligai pernikahan yang diridhai Allah SWT.”

Daud pun mencium tangan ayah Fatimah sebagai rasa takzdim kepadanya dan langsung berpamitan. “Kak, maafkan Fatimah dan kedua orang tua Fatimah jika silaturahim kakak jadi kurang berkesan, Fatimah tidak tahu jika ibu ingin menjodohkan Fatimah dengan orang lain. Fatimah akan bicara ke ibu kalau Fatimah tidak mau dijodohkan. Kak, besok Fatimah mau kembali ke KL, melanjutkan kuliah. Doakan Fatimah.” Fatimah langsung mengirimkan sms ke Daud, ia merasa sangat khawatir jika Daud kecewa. “Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak ada yang salah, justru saya yang mohon maaf. Ikuti saja nasihat ibu, beliau tahu mana yang baik untuk anaknya, jangan mengikuti hawa nafsumu. Kakak doakan semoga perjodohan itu bisa membuat kamu lebih fokus dalam belajar karena sudah jelas tujuan hidupnya.” Tutup Daud seraya mendoakan yang terbaik untuk Fatimah.

Hari berganti hari, tepat pada hari Sabtu pagi setelah shalat subuh, terlihat Daud khusuk mendengarkan pengajian tafsir di sebuah masjid raya kota Bekasi yang dipimpin ustad Abdul Hakim. Ustad Abdul Hakim adalah seorang imam besar yang sangat masyhur keahliaannya dalam bidang Tafsir Al-Qur’an, beliau lulusan Al-Azhar Mesir, tak aneh bila setiap ada jadwal kajian masjid selalu penuh, banyak jama’ah dari jauh yang juga sengaja datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dan hikmah darinya.

“وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Ayat 32 dari surat An-Nur ini adalah anjuran untuk menikah, maksudnya, hendaklah laki-laki yang belum menikah atau tidak beristri atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat menikah. Oleh karena itu, anggapan bahwa apabila menikah seseorang dapat menjadi miskin karena banyak tanggungan tidaklah benar.

Demikian salah satu isi kajian ustad Abdul Hakim yang dibawakan dengan penuh kewibawaan dan retorika yang lantang. Ternyata tema pembahasan tafsir kali ini sangat menyentuh hati dan perasaan Daud, dia terpana dengan penggalan ayat ini, “Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya”. Setelah pengajian usai, Daud pun langsung menghampiri sang ustad, rupanya dia ingin bicara empat mata seraya mencurahkan masalah dan ujian hidup yang dialaminya agar diberikan solusi yang tepat dan mencerahkan. Akhirnya Daud diajak ke kamar khusus imam di lantai 2 masjid. Dengan panjang lebar Daud bercerita tentang semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, tak terasa air mata Daud pun berlinang. “Mas Daud, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu dan tidak mampu menggambarkan masa depan dengan gambaran yang kita kehendaki, lalu mengapa kita bunuh diri sendiri dengan bersedih atas apa yang kita tak mampu mengubahnya??!! Bersabarlah dengan skenario Allah yang indah.”
Banyak kata-kata hikmah yang keluar dari lisan keikhlasan sang ustad, akhirnya Daud bertekad ingin bangkit kembali, bangun dari tidur yang panjang. Ada satu azzam Daud yang sungguh luar biasa, yaitu ingin mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan memohon kepada ustad Abdul Hakim untuk mendengarkan hafalannya sampai tuntas, karena hatinya bergetar ketika sang ustad menyarankan untuk menghafal Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an merupakan obat dari berbagai macam penyakit. Air mata Daud pun langsung terurai menetes ketika ustad Abdul Hakim membacakan sebuah hadist keutamaan seorang penghafal Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya: “Dari Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al-Qur’an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Qur’an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab, ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al-Qur’an berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al-Qur’an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal Al-Qur’an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya, ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal Al-Quran.’ Kemudian, kepada penghafal Al-Qur’an tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).”

Setelah melewati masa-masa sulit dalam menghafal Al-Qur’an, alhamdulillah akhirnya Daud dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun. Ustad Abdul Hakim merasa bangga dan terharu atas kegigihan dan kesungguhan Daud, ustad Abdul Hakim pun memberikan sanad hafalannya ke Daud dan berpesan kepada Daud yang dikutip dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh imam Bukhari: “Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya.” Sungguh nasihat yang penuh makna.

Setelah itu giliran Daud yang ingin diajak bicara empat mata oleh ustad Abdul Hakim, rupanya ada satu hal penting lagi yang ingin disampaikan sang ustad berkaitan dengan jodoh. “Mas Daud, maaf jika ini menyinggung perasaan mas Daud. Ada orang tua yang datang kepada saya, kebetulan masih jama’ah saya juga, namanya bapak Abdullah, seorang pemimpin perusahaan elektronik di Jakarta, Ph.d lulusan Amerika, dia memiliki 3 putri cantik, dia ingin minta dicarikan calon suami untuk anaknya, kriterianya hanya bisa membimbing putrinya dalam hal Agama, menjadi imam yang baik buat putrinya.” Dengan penuh kehati-hatian ustad Abdul Hakim menyampaikannya, tapi tetap dengan kekhasan senyuman di wajahnya yang bersinar. “Sebelumnya saya berterima kasih karena ustad sudah menyampaikan hal itu, tapi saya mohon maaf, bukan saya menolak, tapi saya takut tidak bisa mengikuti keinginan yang biasa keluarga dia lakukan, karena saya terbiasa hidup sederhana dan memang dari keluarga sederhana.” Jawab Daud juga dengan rona wajah takut mengecewakan perasaan guru ngajinya itu. “Ya sudah, sekarang kamu istikharah, jangan lupa hal ini diberitahu ke orang tuamu di kampung.” Demikian nasihat Ustad Abdul Hakim kepada Daud.“Insya Allah, ustad.” Tutup Daud.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya Daud pun menemukan belahan jiwanya, putri bungsu bapak Abdullah, Nourhan Abdullah. Putri bungsu yang manja dan ceria, lulusan Psikologi Universitas Indonesia, itulah bidadari surga yang dipersunting Daud menjadi istrinya. Kini hidup Daud penuh keberkahan, dia memimpin sebuah pesantren Tahfizh modern di Bogor, yang juga mempelajari sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Pesantren Al-Qur’an dan Teknologi Fakhruddin Ar-Razi, Daud mengambil berkah dari nama seorang ulama yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh pada masanya itu.

Muslim Couple
Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah, “Kalau datang kepadamu seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” Demikian pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri yang belum menikah.
(Saef/Dakwatuna).

Dicopy dengan penuh respek dari : diarypernikahan.com

Kamis, 13 Agustus 2015

Jangan Mau Mati Di Gunung

Standard
Ditulis karena beberapa gerah yang membakar kepala sebab banyaknya kasus kematian saat mendaki gunung dalam tiga bulan terakhir. Tulisan ini lumayan panjang, bagi yang tak betah langsung saja tinggalkan. Saya tak memaksa masyarakat menjadi pintar, silahkan bodoh dengan cara sendiri, lalu nikmati.
Picture Credit : dacul
Pendakian gunung telah menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun terakhir. Semakin sporadisnya pendakian disebabkan oleh mudahnya arus informasi, diobralnya moda transportasi, dan meledaknya agen perjalanan yang menawarkan kemudahan. Gunung tak lagi menjadi tempat yang eksklusif, semua bisa kesana dan semua bisa menjamahnya. Namun sangat disayangkan, keinginan untuk menikmati alam, khususnya gunung tidak disertai oleh pengetahuan navigasi yang setimpal, persiapan logistik yang memadai, dan perlengkapan standar pendakian.
Para pendaki anyaran kini seperti pelacur yang menjajakan dan melelang tubuh mereka kepada setiap gunung di Indonesia. Semua cuma demi eksistensi diri. Menjadi selebriti dadakan setelah mengupload foto di jejaring sosial atau situs pribadi yang sebagian besar masih numpang portal gratisan. Beragam pertanyaan berebut, jawaban sekenanya disebut. Sekarang gunung seakan menjadi tempat ajang antar nyawa. Dalam tiga bulan terakhir, telah tercatat beberapa kematian akibat pendakian, diantaranya adalah:
1. Cipto Diyono (60 tahun), asal Dusun Jenak, Desa Ngargoyoso, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar ditemukan tewas oleh seorang warga yang sedang mencari rumput di pos 3 pendakian Gunung Lawu, Karanganyar, Jateng pada Tanggal 11 November 2013.
2. Joan Tobit Sigalingging (23 tahun), mahasiswa tingkat akhir jurusan Oseanografi Institut Teknologi Bandung (ITB) meninggal di sebelah barat daya Gunung Kendang, Kabupaten Bandung. Jenazahnya ditemukan senin pagi 25 November 2013 setelah dikabarkan hilang selama hampir sebulan. Lokasi penemuannya terletak di tebing curam dengan kemiringan lereng sekitar 60-70 derajat pada ketinggian sekitar 2.100-2.200 mdpl.
3. Shizuko Rizmadhani (16 tahun), siswi SMA Negeri 6 Bekasi, diketahui meninggal Selasa 24 Desember malam. Korban tewas di Kandang Batu, ketinggian 2.220 mdpl di pos pendakian menjelang puncak Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Penyebab kematiannya karena terserang hipotermia atau kehilangan suhu panas tubuh akibat basah dan kedinginan.
4. Sehari berikutnya, Endang Hidayat (53 tahun), warga Sepanjang Jaya Rawa Lumbu, Bekasi. Dinyatakan meninggal saat mendaki Gunung Semeru. Korban dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 18.00 WIB di Pos Waturejeng, ketinggian sekitar 2.300 mdpl. Endang diketahui mengalami serangan jatung, bahkan sempat mengalami kejang.
5. Berselang empat hari setelah kabar duka dari Semeru, Gatot Handoko (40 tahun), wisatawan asal Singaraja, Bali, dinyatakan tewas setelah sempat mengeluhkan sakit di dadanya saat pendakian ke Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Nyawa korban tak terselamatkan saat dilarikan ke RS Blambangan yang berjarak 20 km dari pos pendakian pertama Paltuding.
6. Helmi Dwi Apriyanto (19 tahun), mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta tewas saat melakukan pendakian di Gunung Salak, selasa 21 Januari 2014. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, korban sempat menderita sakit saat berada di puncak Salak. Diduga ia tidak kuat menahan udara dingin.
7. Yang terakhir adalah Alief Hazen Rahmansyah (23 tahun) warga jalan Pahlawan, Gresik dan Dian Meitami (19 tahun) warga Karang menjangan, Surabaya. Keduanya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) Surabaya. Mereka ditemukan tidak bernyawa di lereng lembah barat antara Gunung Kembar, Gunung Welirang, Jawa Timur Senin 27 Januari.
Sebagian besar korban kecelakaan di gunung yang disebutkan diatas terjadi karena para pendaki tolol cenderung meremehkan, tidak mengikuti prosedur, tersesat karena tidak melewati jalur resmi, tidak melapor/mengurus Simaksi, melanggar peraturan, tidak membekali diri dengan pengetahuan dasar pendakian, tidak membawa logistik yang memadai, dan terakhir tidak mengikuti ritme pendakian atau aklimatisasi.
Entah apa yang ada di pikiran mereka ketika berani menginjakkan kaki dan melakukan pendakian sedangkan otak masih kosong tanpa mengerti apa itu persiapan pendakian. Gunung bukanlah tempat yang bisa didatangi seenak hati, untuk itu perlu adanya sebuah manajemen perjalanan yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hal ini penting dilakukan untuk meminimalisir resiko dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama berkegiatan.
>> PERENCANAAN PERJALANAN
1. Mempelajari tempat tujuan.
Mencari informasi tentang tujuan merupakan tahap paling awal sebelum melakukan perjalanan. Sangat penting sekali mengenal daerah yang akan dituju. Informasi bisa didapat dengan cara studi literatur ataupun bertanya ke pihak yang pernah berkegiatan di tempat tersebut.
Dalam mempelajari tempat tujuan, buatlah peta lintasan dan pertimbangkan rute mana yang akan dipilih. Peta ini memberikan informasi tentang jalur lintasan yang digunakan, shelter peristirahatan dan tempat camp. Cantumkan juga tempat terdapat sumber air, daerah-daerah yang berbahaya dan kendala yang mungkin terjadi selama perjalanan. Informasi lain yang dibutuhkan adalah keadaan umum daerah, seperti keadaan geografis (suhu, iklim, flora, fauna), sosial masyarakat (ekonomi, adat istiadat/kepercayaan masyarakat sekitar) dan Informasi penunjang seperti alternative transportasi menuju lokasi, tempat perijinan, tempat kesehatan, hal-hal yang menunjang komunikasi (lisrik, sinyal) dan jalur evakuasi, yaitu jalur tercepat yang bisa ditempuh untuk membawa korban apabila terjadi kecelakaan.
2. Merencanakan time schedule dan waktu perjalanan
Setelah mempelajari lokasi tujuan, langkah selanjutnya adalah memperkirakan waktu perjalanan. Rincian waktu yang dibuat mulai dari berangkat, lama di perjalanan, hingga kembali. Hal ini sangat berpengaruh terhadap jumlah logistik maupun perlengkapan yang akan dibawa. Hal lain yang harus diperhatikan adalah musim pada saat pelaksanaan perjalanan.
3. Mempersiapkan fisik dan mental
Dibutuhkan stamina yang fit dan kondisi badan yang baik dalam mendaki gunung. Ada baiknya berolahraga secara rutin dan teratur beberapa minggu sebelum hari pendakian, jangan lupa juga untuk menyeimbangkan waktu istirahat. Kondisi mental juga sangat berpengaruh dan mutlak diperlukan. Jangan anggap enteng perjalanan, perbuatan nekad sering terjadi karena ketegangan, merasa kuat, sok, dan panik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah proses aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh terhadap lingkungan), karena seringkali sebuah perjalanan di alam terbuka akan berhadapan dengan suhu lingkungan yang ekstrim.
4. Memanajemen logistik yang akan dibawa
Fungsi dari managemen logistik adalah mengefektifkan perbekalan selama perjalanan sehingga tidak menambah berat beban bawaan, namun mencukupi kebutuhan gizi dalam tubuh. Beberapa syarat makanan yang perlu diperhatikan adalah mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang cukup, tahan lama, siap pakai, tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar. Jangan membawa dan mengonsumsi minuman beralkohol karena meskipun hangat namun dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.
Kalori yang dibutuhkan juga sebaiknya diperhatikan. Jumlah kalori setiap orangnya bervariasi tergantung jenis kelamin, lamanya perjalanan, aktivitas apa saja yang akan dilakukan (pendakian konvensional atau pembukaan jalur), serta keadaan medan yang akan dihadapi. Secara umum kebutuhan kalori dalam mendaki gunung adalah 3.000 kilo kalori untuk laki-laki dan 2.600 kilo kalori untuk perempuan. Untuk pemenuhan kalori tersebut, dibutuhkan bahan makanan dengan komposisi Karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein sebanyak 10-15% dari total kebutuhan energi.
Total air yang dibawa, tergantung pada lamanya perjalanan dan lokasi yang dituju. Apabila di suatu daerah terdapat mata air maka bisa mengisi ulang tempat air yang kita bawa. Ini akan mempermudah pergerakan dan menjadikan beban yang kita bawa lebih ringan. Namun jika di sepanjang perjalanan hampir tidak ditemukan mata air, maka air dibawa seluruhnya dari start perjalanan kita atau dari sumber mata air terakhir yang ditemukan. Kebutuhan air dalam pendakian setiap harinya adalah air selama perjalanan 800 mililiter, air minum setelah makan 200 mililiter, air untuk memasak nasi 200 mililiter, air untuk memasak sayur (jika ada) 200 mililiter, air untuk kebutuhan camp 600 mililiter, dan air untuk back up sebanyak 800 mililiter.
Selain menghitung kebutuhan bahan makanan dan air selama perjalanan, yang tidak kalah pentingnya adalah perhitungan kebutuhan bahan bakar yang akan dibawa dan dipergunakan nantinya. Bahan bakar bisa berupa gas dan spiritus cair maupun gel. Perhitungan kebutuhan bahan bakar bervariasi tergantung berapa kali digunakan dan jenis bahan bakarnya.
5. Mempersiapkan Perlengkapan
Keberhasilan suatu perjalanan di alam bebas ditentukan juga oleh perbekalan dan perlengkapan yang tepat. Peralatan yang umum dibawa para pendaki biasanya dibagi menjadi perlengkapan dalam perjalanan, pakaian hangat, perlengkapan tidur, perlengkapan memasak, alat komunikasi, alat dokumentasi dan standar kebutuhan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
PERLENGKAPAN DALAM PERJALANAN.
- Carrier
Sebaiknya memakai carrier yang nyaman dipakai. Lebih baik jika mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Memiliki ruang ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel. Praktis, dengan kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan yang dapat memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu. Dan yang terakhir harus Kuat, mampu membawa beban dengan aman, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dan terbuat dari bahan yang water proof.
- Sepatu
Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu yang melindungi sampai ke mata kaki, tidak mudah sobek, lunak bagian di dalam dan masih memberikan ruang bagi gerak kaki, keras bagian depan untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu yang bagian depan dilapisi besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu), bentuk sol bawahnya harus dapat “menggigit” tanah ke segala arah, dan ada lubang ventilasi sehingga air dan udara bisa lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.
- Celana lapangan
celana lapangan yang dipilih hendaknya tidak mengganggu gerakan kaki (penggunaan jeans sangat tidak dianjurkan, selain menyerap dingin, bahan jeans yang berat dapat membuat tubuh cepat lelah), mudah kering (jika basah tidak menambah berat), terbuat dari bahan yang menyerap keringat, dan disarankan untuk menggunakan celana panjang.
- Baju lapangan
Hendaknya dapat melindungi tubuh dari kondisi sekitar, kuat, ringan, terbuat dari bahan yang menyerap keringat, mudah kering dan disarankan untuk menggunakan lengan panjang.
- Kaos kaki dan sarung tangan
Kaos kaki berfungsi sebagai pelindung kulit kaki dari gesekan sepatu. Sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari wol agar tetap hangat pada daerah yang dingin.
- Peralatan navigasi
Kompas, peta, penggaris, busur derajat (protactor), alat tulis, dan Global Positioning System (GPS).
- Survival kit
Korek api, lilin, jarum jahit dan benang, kantong plastik, peniti dalam berbagai ukuran, senter atau headlamp, peluit, pisau (pisau lipat, pisau tebas), dan raincoat.
PAKAIAN HANGAT.
- Jaket
Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin, sengatan matahari atau hujan. Akan sangat baik bila jaket memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin.
- Syal atau slayer
Dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival, dan baik digunakan untuk perban darurat ketika dalam keadaan darurat.
PERALATAN TIDUR
- Satu set pakaian tidur, Kaos kaki, Sleeping bag, Matras dan Tenda.
PERLENGKAPAN MASAK.
Terdiri dari alat-alat makan (sendok, piring, gelas), Alat masak (nesting, trangia, kompor, gas, minyak tanah, spritus), dan tempat air minum.
ALAT KOMUNIKASI DAN ALAT DOKUMENTASI.
Kamera, Handy Talky (HT), ataupun HP satelit jika daerahnya tak terdapat sinyal telekomunikasi.
6. Menyediakan segala kebutuhan administrasi.
Setiap daerah mempunyai peraturan perijinan yang berbeda. Izin ini tergantung juga pada sifat kegiatan yang akan dilakukan, apakah untuk penelitian, wisata, pembuatan film, atau petualangan. Surat-menyurat yang diperlukan dalam perjalanan kegiatan alam bebas antara lain surat pengantar dari lembaga terkait, surat ijin kegiatan (Kepolisian atau bakesbang), surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI), Kartu Tanda Penduduk dan surat keterangan sehat dari dokter.
PELAKSANAAN.
Pada saat melakukan pendakian hendaknya memperhatikan beberapa aspek penting berikut:
- Melapor pada pos pendakian
Sebelum pendakian dilakukan, melapor dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait terutama di pos pendakian adalah hal yang wajib hukumnya. Di pos pendakian, isilah buku tamu dengan mencantumkan lama pendakian, alamat lengkap dan nomor telepon keluarga atau teman yang dapat dihubungi bila terjadi musibah di gunung. Setelah kembali (turun) dari mendaki gunung jangan lupa untuk melapor kembali ke Pos Pendakian.
- Jangan melakukan pendakian seorang diri.
Lakukan pendakian dalam group dan jangan pernah terpisah. Ketika mendaki secara berkelompok, kemampuan baik fisik dan emosional tiap orang akan berbeda-beda. Ada yang fisik dan staminanya luar biasa dan ada juga sebaliknya. Ada yang ketenangan dan kematangannya mungkin lebih baik dalam menghadapi tekanan dibanding yang lain. Jaga kebersamaan saat mendaki. Usahakan menunggu jika ada tim yang tercecer di belakang. Kasus hilang di gunung sebagian besar karena tersesat dan memisahkan diri dari rombongan.
- Hindari mendaki pada malam hari
Selain berbahaya untuk pergerakan, kebanyakan hewan buas juga aktif pada malam hari (nocturnal). Salah satu cara agar terhindar dari ancaman hewan buas adalah mendaki pada pagi atau siang hari. Hentikan segala aktivitas pendakian pada malam hari untuk meminimalisir resiko bertemu hewan buas.
- Ikuti jalur yang sudah ada.
Jalur pendakian di setiap gunung yang umum didaki biasanya jelas dan terlihat. Tetap ikuti jalur dan jangan pernah memilih jalan lain. Jika melewati percabangan yang membingungkan dan tidak yakin dengan jalur mana yang mesti diambil, pasanglah tali berwarna sebagai penanda. Jika ternyata jalur yang dipilih salah maka dapat kembali ke persimpangan awal, namun jangan lupa untuk mencabut kembali penanda yang telah dipasang.
- Jangan memaksakan diri.
Tidak ada yang salah jika merasa lelah. Mendaki gunung bukanlah ajang untuk kuat-kuatan, fisik seseorang memang beragam. Beristirahatlah jika memang diperlukan. jika sedang dalam perjalanan, minta ketua rombongan untuk berhenti. Sekali lagi, jangan terpisah dan membiarkan yang lain melanjutkan perjalanan sedangkan kamu sedang istirahat.
- Jangan merusak.
Selama pendakian hindari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak keindahan dan keseimbangan alam seperti menebang tumbuhan sembarangan, melakukan aksi coret-coret (vandalisme), menangkap hewan, memetik bunga (seperti edelweiss), maupun membuang sampah non-organik terutama sampah plastik yang dihasilkan selama pendakian. Sampah hendaknya dikumpulkan dalam kantong plastik, dibawa turun dan dibuang di tempat sampah yang terdapat di pos pendakian.
PASCA PELAKSANAAN.
Jangan meremehkan evaluasi, selalu lakukan evaluasi kegiatan setiap harinya ketika mendaki maupun setelah kegiatan selesai. Hal ini penting untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan agar tak lagi terulang ketika akan melakukan perjalanan selanjutnya.
Sekian beberapa persiapan dasar yang harus diperhatikan dalam melakukan pendakian. Ingat, PERSIAPAN DASAR, masih ada beberapa pengetahuan lain yang harus dipelajari, diantaranya packing, mengenal karakteristik dan kontur gunung, ilmu mountaineering, navigasi, pertolongan pertama, SAR dan evakuasi, jenis-jenis penyakit gunung, dan beberapa cara survival.
JANGAN MAU MATI DI GUNUNG.
Jangan ada lagi korban yang terenggut, jangan ada lagi nyawa yang melayang. Terakhir, It is not the mountain we conquer, but ourselves. Bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri kita sendiri.

Di-copy dengan penuh respek dari fan page Backpacker Nusantara

Senin, 15 Juni 2015

Memikat Senja Di Gunung Prau

Standard
Bukan hal yang mudah untuk bisa berdiri di atas sebuah gunung. Setidaknya untuk sebagian orang. Sebagian orang yang mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana manisnya udara di ketinggian ribuan meter itu, bagaimana sejuknya angin yang menyisir setiap helai rambut, bagaimana menakjubkannya menyaksikan awan-awan selembut kapas yang menari dan bergulung-gulung di bawah lutut, dan bagaimana luarbiasanya bisa berada begitu dekat dengan kubah langit; menerawang kehidupan manusia yang bergulir dengan irama yang telah Allah ciptakan bait demi bait.

Begitu Jauh Kaki Menjejak | Gunung Sindoro - C. Vindra R
omgwtfbbq!!

Katanya sih, menulis itu bisa meningkatkan kecerdasan seseorang. Jadi semakin sering dia menulis, maka kecerdasannya juga akan semakin bertambah. Well ... kalau dipikir-pikir sih, memang ada korelasinya. Gini deh... Bukankah saat kita menulis, kita juga berpikir tentang kata dan kalimat yang akan kita tulis? Dan bukankah berpikir itu adalah sebuah proses untuk membiasakan berpikir<?> Dan orang yang terbiasa berkipikir adalah seseorang yang banyak pikirannya<??>

Yaa ... gitulah. Okay, OOTnya sampai sini, dan sekarang kita lanjutken ngebahas Senja di Gunung Prau!! {insert "yay!" expression here}

Kapan terakhir kali kamu nginep di Gunung Prau?
eh, apa? Belum pernah??!!
Oke ... okay. Dunia belum berakhir ... bila kau putuskan aku. Paling-paling juga kalau kamu mentok, balik padaku ... <???>

Jadi, kalau kamu belum pernah ke Gunung Prau dan berencana untuk mengunjunginya, setidaknya ada 5 jaur yang bisa kamu lalui. 3 diantaranya bisa kamu baca di artikel saya yang ini ...

The Amazing Gunung Prau, 3 Jalur Pendakian

TAPI ... saya sarankan, kamu baca artikel yang INI terlebih dahulu. Karena, akan ada 1 privilege yang bisa kamu dapatkan dengan membaca artikel saya ini. <= yang ini serius.
Dan privilege ini bernilai DIAMOND kalau kamu ikutan MLM.
tbw ... privilege itu artinya "Hak Istimewa" ya gaes ...

So, apa hak istimewa yang bisa kamu dapatkan dengan membaca artikel ini??
Yaelah ... dari judulnya juga udah keliatan kali, kita akan membahas tentang Senja di Gunung Prau.
Dan kenapa Senja di Gunung Prau adalah hal yang Istimewa?
Karena..., kalian mungkin pernah, dan mungkin juga sering menyaksikan matahari tenggelam di tepian samudera. Tapi pernah nggak sih, kalian menyaksikannya dari atas gunung? Dari ketinggian ribuan meter dpl itu?
Akan terasa seolah-olah kalian sedang menyaksikan matahari yang jatuh di tepian dunia ...
Suerr..!! Ini bukan hiperbola, karena Nilai UN B.Indonesia saya nggak sampai 9.4, kok. Dan inget nggak, sama perasaan yang muncul di dalam dada kalian kala sedang menyaksikan proses tenggelamnya matahari?

Senja di Gunung Prau : by. C. Vindra R.
Hangat ...

Perasaan hangat yang menentramkan, bukan?

Berbeda dengan sunrise yang menyiram jiwa kita dengan aroma semangat dan kehidupan baru, sunset akan membalut kita pada kenangan dan memori yang penuh dengan kehangatan.

Sunrise dan Sunset | Gunung Prau - C. Vindra R
Kalian bisa menikmati momen sunset dengan orang-orang tersayang saat menginap di Hotel Berbintang 5 Milyar - Gunung Prau, jika kalian mendaki lebih awal tentunya. Atau paling tidak, berangkatlah dari basecamp sekitar pukul 2 siang / setelah selesai Sholat Dzuhur. Karena biasanya kalian akan butuh waktu 2 jam untuk mendaki. Jadi kan kalau sudah sampai puncak, sudah bikin tenda, sudah beres semua, tinggal duduk santai ... menikmati wangi angin padang rumput di sore hari, sampaikan, salam, gembiraaaaa .....

Dan mungkin ... mungkin saja, dari semuanya ... sunset adalah hal yang akan membuat kalian rindu untuk kembali lagi ke Gunung Prau. Kalau hari ini bareng cowok-cowok maho, mungkin tahun depan sudah sama Suami / Istri sendiri;
Duduk berdua di atas bukit bundar yang ditutupi rumput liar, menatap jaaaauh ke masa depan ...
Membicarakan rumah dengan genting merah dan lantai kayu, dengan teriakan-teriakan kecil, dari kaki-kaki kecil yang melangkah penuh tenaga, berteriak menyebutmu ... Mama, dan memanggilku Ayah. *uhuk*
Semoga ... {Insert "Aamiin" expression here}


Ok. Jadi gitu ya, kalau mau stay di Gunung Prau selama 1 malam, kok rasanya sayang banget jika kalian tidak menyempatkan diri untuk menikmati sunset. Padahal sudah datang jauh-jauh dari propinsi seberang, dan yang perlu kalian lakukan cuma berangkat beberapa jam lebih awal.
Kemudian kalian akan diterbangkan oleh angin senja untuk kembali ke masa lalu ... hingga akhirnya menyelam di balik lembutnya awan menuju hari yang akan datang ...

Salam hangat dari saya ... :)


Menari Bersama Angin | The Air Bender - C. Vindra R.

= C. Vindar R. =

Minggu, 08 Maret 2015

Innie's sunday afternoon

Standard
Sebuah perjuangan yang cukup berat bagi mereka yang memiliki kepribadian introvert. Yaitu hidup di dunia ekstrovert. Apalagi jika ia justru terperangkap dalam dunia introversinya sendiri.
Kaya gue.
Picture Credit: 9gag
Gue baru tahu kalau gue introvert, kira2 beberapa bulan yang lalu. Atau mungkin tahun lalu, setelah sahabat baik gue ngasih buku The Introvert Advantage karya Marti Olsen Laney.
Sebelum baca buku itu, gue selalu ngrasa terlahir sebagai "alien". Lo pasti ngerti rasanya kalau lo juga introvert. Gimana nggak cocoknya Lo dengan keramaian, saat lo lebih suka diem ketimbang ngomong ngalor-ngidul nggak jelas, saat lo lebih milih baca buku di kamar ketimbang nonton konser rame2, atau saat lo tiba-tiba jadi gugup di depan orang tanpa alasan yang lo bisa ngerti.
Gue BUKAN pendiam, juga bukan pemalu, begitu juga dengan mereka para Innies di luar sana. Kita cuma ... introvert. Karena saat gue butuh sesuatu, gue akan mengungkapkannya dengan jelas. Dan saat gue sudah dapet apa yang gue butuh, gue akan kembali ke dalam dunia Innies gue.
Egois?? NO!! gue cuma ngerasa ... you know, talk less do more?
Mungkin emang bener, orang Introvert selalu sibuk dengan pikiran mereka. Karena saat mereka diam, mereka nggak "mati" kok. Mereka justru sedang bergelut dengan pemikiran mereka sendiri. Dan biasanya orang-orang akan terkejut saat mereka bicara untuk mengungkapkan isi kepalanya.
Dan ironinya, beberapa orang Outtie / Ekstrovert tidak bisa memahami hal ini. Mereka selalu menganggap sifat diam para Innie sebagai sebuah bentuk kecongkakan. Para Innie biasanya mendapatkan kesan buruk dari para Outtie, yang jarang bicara meski mereka memiliki pengetahuan pada topik yang sedang dibicarakan.

Picture Credit: Yanguchitzure
Sebenernya, perbedaan yang PALING mendasar antara Introvert dan Ekstrovert, adalah ENERGI yang mereka hasilkan dan keluarkan.
Orang Ekstrovert akan "mati" kalau kelamaan diem di rumah, mereka harus ketemu orang lain, melakukan kegiatan dan banyak hal, olah raga, jalan rame2, nonton konser, karena dari situ mereka mendapatkan "energi" mereka. Mereka akan sangat bersemangat saat mendengar kata PESTA.
Sebaliknya, orang introvert justru akan "mati" saat mereka melakukan hal-hal di atas. Mungkin mereka akan menghadiri acara-acara tersebut sesekali, tapi mereka nggak akan bisa bertahan lama di sana. Percaya atau nggak, jika kelamaan di tempat ramai, mereka bisa tiba-tiba ngerasa pusing dan pengen cepet2 melemparkan dirinya ke kasur yang empuk dalam kamarnya yang nyaman. That's our heaven ...
Sebuah sofa yang nyaman, dengan secangkir kopi / teh dan buku yang bisa dibaca, merupakan "charger" bagi mereka yang Innie.
Kolam renang dengan papan seluncur yang tinggi, dan ramai dengan orang-orang / konser musik dengan sound system terbaik, adalah "charger" para Outties.

Itulah kenapa, biasanya orang Introvert punya lebih sedikit teman ketimbang mereka yang Ekstrovert. Teman-teman yang berkualitas, yang layak disebut sebagai sahabat baik.

Well, sekarang masalahnya (gue) ... gimana kalau kesibukan gue di dunia Innie justru menjadi kebiasaan? Gue lebih suka melaukan hal-hal di dalam imajinasi gue ketimbang dunia nyata? yang pada akhirnya mengubah gue jadi pemalas, quitter, day dreaming, dan sebagainya??
It's happening!!
I need someone to pull me up!! I'm drowning in my own dream ...
somebody help me ... :( please.

Sabtu, 28 Februari 2015

Death Zone Gunung Semeru

Standard
View dari puncak Mahameru


~ (-5 Cm) Mengenal BLANK75, Zona kematian yang mengintai dibalik keindahan Semeru ~

Blank 75 adalah istilah yg sering digunakan oleh personel SAR yang sering beroperasi di kawasan Gunung Semeru untuk menunjukkan suatu lokasi di gugusan lereng jurang Semeru untuk mencari ataupun mengevakuasi korban pendaki yg hilang ataupun tersesat selama pendakian ke Semeru.

Bisa dibilang kawasan Blank 75 adalah "DEATH ZONE"-nya jalur pendakian Semeru.
Gambaran medannya adalah lereng berpasir yg jalurnya putus (blank) karena dipisahkan oleh jurang yg dalamnya kira2 75 - 100meter, bahkan ada titik yang mempunyai kedalaman 200an meter. Makanya disebut Blank75.
Lokasinya yaitu kalo kita turun dari puncak Semeru, maka Blank 75 letaknya berada diluar jalur di sebelah kanan Arcopodo/kelik (dari arah puncak). Di sekitar batas vegetasi.

Kenapa dibilang Death Zone, karena berdasarkan modus dan kasus selama ini hilangnya pendaki yang turun dari arah puncak kemudian mengalam disorientasi jalur, kebanyakan mereka melipir terlalu ke kanan dari jalur yg benar. Dan itu mengarah langsung ke Blank 75 tersebut.
Kita gak mau kan lagi enak-enaknya prosotan di pasir pas turun, tiba2 jalurnya terputus dan langsung ada jurang dalam yang menganga di depan kita dan kita gaksempat ngerem. Bisa dipastikan wassalam.

Hampir semua pendaki yang dilaporkan hilang waktu turun dari puncak Semeru diketemukan di sekitaran Blank75 tersebut, entah diketemukan dalam kondisi hidup ataupun sudah menjadi mayat. Korban terakhir di Blank 75 ini adalah Alm.Andhika dari UGM yg ditemukan mayatnya di area Blank 75 ini beberapa waktu lalu. Setelah itu ada Bule dari USA yang juga nyasar di area tersebut tapi untung waktu diketemukan masih dalam keadaan hidup.

Bahkan pada saat SAR mengevakuasi jasad Andhika saat itu, tim SAR malah menemukan lagi 2 mayat (sudah menjadi kerangka) dari pendaki yg sebenarnya bukan menjadi target pencarian.

Kenapa area Blank 75 banyak memakan korban pendaki yang disorientasi waktu perjalanan turun dari puncak ? Menurut pengamatan karena waktu kita turun dari puncak Semeru melalui jalur berpasir itu, banyak pendaki yang tidak melakukan orientasi medan dengan memperhatikan patokan, karena Cemoro Tunggal sebagai tanda jalur yg benar pun kini telah hilang. Atau bisa jadi para pendaki tersebut keluar dari kawasan puncak tidak pada entry point dimana dia masuk karena jalur pasir saat turun dari puncak hampir terlihat sama.

Apabila pendaki tersebut melenceng di tengah jalur cerukan pasir yang benar,kemungkinan besar mereka akan melenceng ke kanan dari jalur yang benar. Karena ke kanan relatif lebih gampang daripada melenceng ke kiri yg mempunyai struktur lereng lebih curam dan banyak "tebing pasir" yang tinggi2, sehingga kalo kita udah masuk ke cerukannya akan sangat sulit untuk keluar, apalagi jika kabut ikut menemani.

Mungkin pada saat kita di atas melencengnya cuma 1 meter dari jalur yg benar, tapi secara logika yg namanya kerucut, semakin ke bawah akan semakin jauh jarak selisihnya. Benar apa benar sodara2?

Pun misalnya pendaki yg telah tersesat tersebut jatuh/masuk ke area Blank 75 tersebut sebenarnya masih dalam keadaan hidup, besar kemungkinan survivor tersebut tidak bisa bertahan hidup lama, karena (sekali lagi) berdasarkan pengamatan, vegetasi di area tersebut tidak mendukung untuk kita melakukan survival. Ditambah lagi tidak ada sumber air dan kondisi cuaca dan suhu kawasan Semeru yang bisa dibilang extreme. Angin kencang dan suhu yang sangat dingin membekukan.

Jadi kalo boleh berpesan pada kawan2 sekalian yg mau naik semeru, sebisa mungkin berjalan dalam satu rombongan utuh pada saat turun dari puncak. Karena diperjalanan turun itulah resiko terbesar untuk tersesat karena disorientasi jalur.

Jadi tetap Waspada guys, dan jangan lupa selalu berdoa dimanapun kita berada.


Sumber:
fb Pendaki Indonesia

Rabu, 25 Februari 2015

Bagaimana Jika Kau yang Membuatku Jatuh Cinta

Standard
Picture Credit by: frecklefaced29
Coba dengar,
Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya

Kamu harap dia memiliki perasaan yang sama denganmu
sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu persatu
Kamu berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya
bersandar dan bergantung kepadanya

Coba dengar
Harapanmu sungguh setinggi langit
Kamu tidak takut jatuh?
Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan?

Coba dengar
Bila rasamu itu begitu jauh
Bagaimana bila kamu membuatku jatuh cinta?
Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kamu miliki kepada orang lain
Apa kamu juga akan diam saja?

Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan?
Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya

Bagaimana?
Aku membutuhkan jawabanmu.
Dan kamu diam saja, membisu.
Tidak percaya.

Kurniawan Gunadi